Pulau Mas Kahwin: Jejak Sejarah Johor-Riau - Iman Shoppe Bookstore
RM25.00

Jejak Tarbiah

Pulau Mas Kahwin: Jejak Sejarah Johor-Riau

Buku ini dikarang adalah untuk mengenang kembali suatu ketika dahulu, pulau itu pernah berdaulat. Menjadi pusat pemerintahan Johor-Riau, bersejarah lagi penuh kisah lampau. Pulau yang menjadi saksi percintaan luhur, pulau ini menjadi mas kahwin Sultan Johor.

Buya Hamka juga pernah menziarahi Pulau Penyengat dalam kunjungan pertamanya ke Riau pada tahun 1954. Bukan tanpa sebab Hamka menziarahinya. Tentulah Hamka telah lama mendengar nama pulau yang tak dapat dilepaskan dari nama pujangga Raja Ali Haji ini.

Seorang penduduk mencatat peristiwa kunjungan Buya Hamka ke Pulau Penyengat. Dalam catatan harian itu disebutkan bahwa “Pada 8 Raja 1373 bersamaan 13 Maret 1954 jam pukul 9 pagi Tuan Hamka pengarang tasawuf datang ke Penyengat melihat-lihat bekas istana raja dan mesjid dan makam-makam... Satu hal yang menyita perhatian Buya Hamka selama kunjungan di Pulau Penyengat adalah kitab-kitab milik Kutubkhanah (Perpustakaan) Marhum Ahmadi peninggalan Yamtuan Muda Riau X, Raja Muhammad Yusul al-Ahmadi, yang masih tersimpan dalam dua almari antik di Masjid Jamik Pulau Penyengat. Menurut Buya Hamka, di antara kitab-kitab dalam almari itu antara lain tersimpan sebuah kitab langka dan penting berjudul Al-Qanun, karya cendekia besar Islam, Ibnu Sina. Lebih jauh tentang kitab ini, Buya Hamka menuliskannya dalam sebuah catatan yang kemudian dicantumkan oleh pengarang Dada Meuraxa dalam bukunya yang berjudul, Kerajaan Melayu Purba, yang diterbitkan oleh penerbit Kalidasa, Medan, tahun 1971: “…Dan yang menarik hati ialah sebuah Kutubkhanah (Bibliotik). Ah, sayang sekali! Kitab2nya, termasuk kitab2 yang mahal dan sangat berharga."

Selagi tanjak masih berada atas kepala Raja, selagi keris tersisip di sisi, selagi itulah berdaulat negeri. Lihatlah pada Pulau Penyengat, apabila telah hilang daulatnya!

Sale

Unavailable

Sold Out